

Penulis: Edy Basri

Rabu, 18 Maret 2026.
Pagi masih sejuk.
Tapi halaman Polres Sidrap sudah panas.
Bukan panas matahari.
Bukan juga karena kendaraan yang hilir-mudik.
Tapi karena kehadiran seorang tamu: Kapolda Sulsel, Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H.
Kunjungan mendadak, tapi terencana.
Hanya tiga wilayah yang dipantau langsung Kapolda: Makassar, Parepare, dan Sidrap.
Sidrap satu-satunya kabupaten.
Alasannya jelas: paling siap menghadapi arus mudik Lebaran.

Sebelum turun ke lapangan, Kapolda menghabiskan waktu di Polres.
Diskusi panjang tapi cair.
Bersama Bupati Syaharuddin Alrif, Wakil Bupati Nur Kanaah, Sekda, dan Kapolres AKBP Fantry Taherong.
Saya duduk di pojok, menulis. Mengamati. Kadang tersenyum sendiri.
Kapolda menanyakan kesiapan logistik, koordinasi unit, strategi komunikasi.
Kapolres menjawab mantap.
Bupati menambahkan catatan.
Saya melihat detail profesionalisme terpancar di ruangan itu.
Momen istimewa: salat duhur berjamaah.
Di Polres. Bersama.
Kapolda khusyuk. Bupati khusyuk.
Saya menulis, tetap khusyuk… tapi dengan mata yang mengamati tiap gerak.
Dua titik peninjauan menanti.
Pertama, Pos Terpadu Kawasan Panker Pangkajene.
Saya ikut rombongan.
Personel rapi. Helm, rompi, senyum yang mengintip waspada.
Kapolda menanyakan logistik.
“Tiap kendaraan cadangan siap?”
Jawaban mantap. Tepuk bahu Kapolda.
Saya tersenyum. Profesional tapi hangat.
Di sini, saya menyaksikan sinkronisasi unit: Intel, Sabhara, Provos.
Semua bergerak serempak.
Seperti orkestra, tapi instrumennya cone, radio, kendaraan, dan senyum petugas.
Kedua, Pos Pengamanan Mudik Watang Pulu.
Jalan pagi lancar.
Tapi Kapolda tetap fokus.
Personel dicek. Alat komunikasi dicek. Koordinasi dicek.
Kapolres Fantry bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain.
Memberi arahan, memastikan semua paham.
Saya berdiri di samping mereka, merasakan energi itu.
Percakapan kecil tapi penuh makna:
Kapolda: “Kalau ada kepadatan mendadak, apa prosedurnya?”
Jawaban cepat, tegas.
Kapolda tersenyum. Saya ikut tersenyum.
Di kedua pos, terlihat hal-hal yang membuat Sidrap menonjol:
Posko command center digital memantau arus mudik real-time.
Titik rawan kemacetan dianalisis.
Personel dibekali arahan teknis dan moral.
Sidrap siap sejak dini.
Kedatangan Kapolda hanyalah konfirmasi.
Kapolres Fantry dan timnya sudah bekerja. Profesional, terkoordinasi, tanggap.
Rombongan Kapolda ditemani Karo Ops KBP Bambang Widjarko, Kabid Propam KBP Zulham Efendi, Dirlantas KBP Pria Budi, dan Kabid Humas KBP Didik Supranoto.
Saya mengikuti mereka.
Melihat bagaimana strategi, manusia, dan teknologi berpadu.
Setiap detail diperhatikan. Tidak ada celah.
Dari pos ke pos, dari pengecekan logistik hingga pemantauan digital, saya menyaksikan aksi nyata.
Bukan kata-kata kosong.
Kapolda datang, meninjau, menilai.
Polres bekerja maksimal.
Warga bisa mudik aman, tertib, nyaman.
Saya berdiri di pos Watang Pulu.
Melihat Kapolda dan Kapolres berbicara dengan anggota.
Kadang serius.
Kadang santai.
Kadang lucu.
Tapi selalu bermakna.
Sidrap bukan sekadar lintasan.
Sidrap adalah laboratorium kesiapan arus mudik.
Polres Sidrap membuktikan diri:
siap menghadapi tantangan, menjaga arus mudik, mengutamakan keselamatan masyarakat Sulawesi Selatan.
Hari itu, saya merasa ikut di setiap langkah Kapolda.
Dari ruang Polres, diskusi strategi, salat berjamaah, hingga meninjau pos.
Semua nyata, detail, berwarna.
Sidrap siap.
Kapolda puas.
Polres hadir, sigap, profesional.
Untuk rakyat.
Untuk keamanan.
Untuk kenyamanan masyarakat.

Tidak ada komentar