
ENREKANG, kilatutama.com — Tidak ada tenda besar. Tidak ada deretan hidangan mewah. Tidak ada hiruk-pikuk seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tapi jangan salah… suasana di Rumah Jabatan Bupati Enrekang justru terasa lebih hidup. Lebih hangat. Lebih “kena”.
Usai Salat Idul Fitri 1447 H, pintu Rujab Bupati H. Muh. Yusuf Ritangnga dan Wakil Bupati Andi Tenri Liwang La Tinro tetap terbuka. Warga datang. Silih berganti. Dari pejabat, camat, kepala desa, sampai masyarakat biasa. Semua datang dengan satu tujuan: bersilaturahmi.
Tanpa protokoler berlebihan. Tanpa jarak.

Di halaman rumah jabatan, orang-orang saling bersalaman. Ada yang tertawa. Ada yang menepuk bahu lama tak jumpa. Ada juga yang sekadar duduk, menikmati suasana. Lebaran yang sederhana, tapi terasa penuh.

Keputusan tidak menggelar open house besar bukan tanpa alasan. Ada situasi yang harus dipahami. Ada empati yang harus dijaga.
Surat edaran dari Menteri Sekretaris Negara tertanggal 17 Maret 2026 menjadi rujukan. Imbauannya jelas: pejabat negara diminta menahan diri, tidak merayakan Idul Fitri secara berlebihan.
Bupati Yusuf memilih mengikuti itu. Tapi dengan cara yang lebih “membumi”.
“Bukan berarti kita menutup diri… tapi kita menyesuaikan dengan kondisi rakyat,” ujarnya, pelan, sambil menyambut tamu yang datang satu per satu.
Kalimatnya sederhana. Tapi terasa dalam.
Di dalam rumah, meja makan tidak dipenuhi menu mahal. Tidak ada kesan “wah”. Yang ada justru makanan yang akrab dengan keseharian warga: bakso hangat, ketupat, rendang, burasa, lappa-lappa, dan kue-kue lebaran.
Sederhana. Tapi cukup.
Dan justru di situlah letak rasanya.
Seorang tamu terlihat mengambil ketupat, lalu duduk di kursi sederhana. Ia tersenyum, “Begini lebih enak… tidak kaku. Kita datang, makan, ngobrol… seperti di rumah sendiri.”
Di sudut lain, seorang ibu menyeka peluh anaknya. “Tidak ramai sekali, tapi nyaman. Tidak berdesakan. Kita bisa betul-betul silaturahmi,” katanya.
Di luar, kendaraan keluar masuk. Tapi tidak macet. Tidak ricuh. Semua mengalir.
Bupati dan Wakil Bupati memang menunaikan salat di tempat berbeda. Bupati di Kecamatan Alla. Wakil Bupati di Kecamatan Enrekang. Tapi setelah itu, satu hal yang sama: membuka pintu, membuka hati.
Tidak ada batasan waktu yang kaku. Dari pagi. Siang. Sampai malam.
Rujab tetap hidup.
Wakil Bupati Andi Tenri Liwang La Tinro, didampingi istri, berdiri menyambut tamu dengan senyum yang sama. Hangat. Tidak dibuat-buat. Ia menyalami satu per satu. Menatap mata tamu yang datang.
Tidak tergesa. Tidak formal.
Lebaran terasa lebih “manusiawi”.
“Alhamdulillah… kita tetap bisa saling memaafkan. Itu yang penting. Bukan soal besar kecilnya acara,” kata Bupati Yusuf lagi.
Kalimat itu seperti menutup semua kesan hari itu.
Bahwa lebaran tidak selalu harus gemerlap. Tidak harus megah. Tidak harus penuh kemewahan.
Cukup dengan pintu yang terbuka.
Cukup dengan tangan yang saling berjabat.
Cukup dengan hati yang saling menerima.
Di Enrekang, hari itu, lebaran terasa lebih jujur.
Lebih dekat.
Dan entah kenapa… justru lebih membekas. (*)




Tidak ada komentar